Selasa, 04 Juni 2013

Rencana Allah selalu yang terindah





Berbicara tentang cita-cita, saya ingat dulu kata guru SD saya "gantungkan cita-citamu setinggi langit" saat itu saya masih kurang paham dengan kalimat itu. Jadi, bila saya di tanyakan tentang cita-cita jawaban saya pasti mau jadi dokter. Tak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk menjadi Guru, seperti Ibu. waktu berlalu..  beranjak dewasa, setelah tamat SMU saya melamar di fakultas kedokteran beberapa Universitas di Sulawesi. Meski niat sudah terpatri untuk menjadi Dokter, tapi cita-cita bisa saja berubah karena orang sekitar atau karena motivasi yang kurang. Well, apapun itu saya bersyukur sebab dengan tidak kuliah di Fakultas kedokteran, saya bisa meringankan beban ibu. Jika benar saya diterima tidak terbayangkan bagaimana besarnya beban yang akan di tanggung ibu. Meski cita-cita untuk menjadi dokter masih tetap ada dalam pikiran saya, saya pun memantapkan diri untuk menjadi Guru dan kuliah di fakultas keguruan di kota saya. Tidak dapat di pungkiri saat mendengar cerita kawan SMA yang saat itu menjadi mahasiswa kedokteran, hati saya selalu berkata "andai saya ada diposisi mereka". Belajar menerima keaadan dan selalu bersyukur dengan apa yang saya miliki, akhirnya saya mulai menerima bahwa saya memang di takdirkan untuk menjadi guru. Praktek mengajar pertama saya, sangat berkesan bagi dosen pembimbing waktu itu. Saya orang yang selalu gugup dan kurang percaya diri, menemuka diri saya saat berdiri di depan kelas. Saya mulai melupakan cita-cita menjadi dokter dan fokus belajar untuk menjadi Guru. Selain itu, berbagai beasiswa saya terima, sejak semester awal perkuliahan, mampu meringankan beban orang tua saya.
No more dreaming to become a doctor, I wanna be a teacher.

Saat reuni dengan kawan SMA saya memang belum bisa menghilangkan rasa ingin berada di posisi mereka. mereka yang gaya, trendi, dan super cool saat berkumpul. hehehe..  Astagafirullah, tapi itulah saya. Empat tahun berlalu, saya menamatkan kuliah dengan prestasi yang sangat baik. Saya pun mulai berkeinginan untuk mengajar manjadi Dosen di kampus saya dan beroleh beasiswa pasca sarjana. Doa saya panjatkan dan usaha saya jalankan untuk mengikuti seleksi dosen yang waktu itu diadakan di Kampus. Namun nasib baik belum berpihak pada saya, sistem jatah menjatah ala Indonesia masih berlaku. Tidak perduli bagaimana prestasi dan kerja keras anda, siapa yang anda kenal mungkin lebih utama. Dua bulan setelah itu, saya mencoba melamar majadi  PNS guru di kota saya, Alhamdulillah saya diterima. mengajar selama dua tahun, saya pun melamar beasiswa s2 Amerika. Allah maha besar, saya perempuan dari keluarga biasa, Lulus PNS hanya dengan sekali melamar MURNI, hanya dengan bantuan Allah dan Mendapatkan beasiswa ke Amerika dengan bahasa Inggris pas-pasan  hanya dengan  sekali melamar juga. Allah maha besar, tiada yang sulit untuk-Nya.

Mungkin orang selalu bertanya apa rahasianya, saya pun tidak bisa menjawab. Rencana Allah memang yang paling indah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Belajar Di Kanada

Setelah sekian lama vakum menulis di blog ini, akhirnya saya punya waktu luang untuk kembali menuliskan pengalaman saya belajar dan travelli...